Dreamy Backpacker: Tana Toraja: Lebih Dari Sekedar Kota di Monopoli

05/11/12

Tana Toraja: Lebih Dari Sekedar Kota di Monopoli


 “Tersirat keindahan, kearifan budaya di balik semua kesan keramat yang ada. Menghargai kematian selayaknya mereka menghargai kehidupan”

Gerbang Kabupaten Tana Toraja
Tana Toraja. Sejak dahulu kala yang ku tahu tentang tempat ini hanyalah dari selembar kertas permainan monopoli yang sering ku mainkan bersama adik-adikku. Suatu tempat yang ingin aku kunjungi walaupun masih berupa impian saat itu.


Akhirnya saatnya tiba. Sebenarnya aku juga ingin melihat prosesi adat pemakaman, tapi tugas mendadak ke Makassar adalah mungkin satu-satunya jendela kesempatan aku untuk menengok misteri tempat ini. Kali ini aku seret teman kantorku, Sesa.
Now let’s the story begin…
Perjalanan ke Tana Toraja dari Makassar memakan waktu sekitar 8 jam melewati 8 kota/kabupaten. Rencana awal adalah naik bus dari terminal terdekat dengan biaya Rp. 100.000. Tapi satu hal yang luput dari catatanku adalah bahwa bus ini berangkat mulai dari jam 8 sampai jam 10 pagi. Padahal pagi itu kami baru keluar dari hotel jam 10. Luar biasa. Rencana berantakan bahkan sebelum dimulai. Akhirnya kami putuskan untuk menyewa mobil. Setelah menelepon sana sini akhirnya kami mendapat mobil dan harga yang cocok. 1 Avanza, 750 ribu,2 hari, Tana Toraja, sepertinya kesepakatan yang lumayan bagus. Walaupun bagiku sedikit berat karena bilangan pembaginya hanya 2, aku dan Sesa.
Setelah Makassar, kota yang dilewati adalah Maros. Sebenarnya di kota ini ada 2 tempat wisata yang harus disinggahi yaitu Air Terjun Bantimurung dan Taman Kupu – Kupu. Tapi sayangnya karena waktu yang terbatas kami tidak sempat untuk menyambanginya. But next time, I will. Selanjutnya kabupaten Pangkep, Kabupaten Baru. Namun ketika sampai ke Kota Pare-pare kami cukup terkesan dengan bagaimana kota kecil di timur Indonesia bisa melahirkan sang putra jenius Indonesia yaitu BJ. Habibie. Segalanya mungkin bagi yang berdoa dan berusaha. Kabupaten Sidenreng Rappang atau yang lebih dikenal Sidrab, tempat kelahiran sang mufasir, Muhammad Quraish Shihab. 
Malam sudah mendekat, hari sudah beranjak gelap. Keindahan Sulawesi Selatan mulai berganti dengan pertualangan yang menegangkan ketika kami mulai memasuki Kabupaten Entrekang. Jalan di sini sangat berliku-liku, membelah gunung dan banyak yang bertepikan jurang. Yang menambah ketegangan adalah tidak ada lampu, batas jalan, garis putih dan jarak antara kampung sangat jauh. Dan berkat pak Raul, sopir kami yang sangat baik hati, jantung kami bekerja lebih keras karena dia juga menceritakan bahwa beberapa minggu yang lalu, ada mobil yang jatuh ke jurang dan evakuasinya sulit karena mobilnya tersangkut di tengah dan ketika dia berkata bahwa dia akan menunjukkan bangkai mobil yang berada di tengah tebing itu, aku dan Sesa serempak menolak. Sekarang aku baru tahu kenapa bis dari Makassar hanya jalan pagi hari dan dari Tana Toraja hanya malam hari, ternyata karena banyak rute hanya dapat dilalui bus dari satu arah. Oh iya karena pekatnya kegelapan malam di Entrekang, semua bus atau truk yang berpapasan dengan kami berhiaskan lampu yang bisa menyinari satu kampung kecil. Terang banget. Tujuannya agar terlihat oleh kendaraan di belakang atau di arah yang berlainan.
Akhirnya jam 8 teng, kita sampai juga di Tana Toraja. Yang pertama dicari adalah dorongan dasar manusia yaitu makan. Tapi mencari tempat makan halal di kota ini merupakan hal yang cukup menantang. Supaya aman diputuskan makan seafood, tapi ternyata sangat mahal dan anehnya alesan kenapa bisa mahal karena Tana Toraja jauh dari laut. Tak menyerah, kami menemukan Rumah makan halal. Yang menarik adalah bukan tulisan halal yang terpampang di plang rumah makan tapi tulisan “Bismillahirahmannirrahim”. Jadi itulah tips cari makanan halal di Tana Toraja. Tapi hati – hati karena tidak ada harga di menunya.
 Hari mulai beranjak larut, waktunya mencari tempat istirahat. Berhubung budget pas-pasan kami mencari wisma yang murah aja. Kalau bisa paling murah lah pikirku. Beruntungnya kami memiiki sopir yang tau daerah Tana Toraja luar dalam. Saat kami bilang paling murah, dia benar-benar mengantarkan kami ke wisma Maria 1 di daerah Rantepao, Toraja Utara yang tarifnya antara 90 ribu sampai 120 ribu. Satu-satunya kamar yang masih ada hanyalah yang 90 ribu. Kamarnya cukup luas tapi pengap dan di depan kamar yang ada hanyalah halaman yang dipenuhi pohon lebat yang gelap dan pekatnya membutakan mata. Aku sih tak bermasalah tidur di mana saja. Tapi ketika aku bertanya pada Sesa, dia cuma jawab lirih, “moh” – “tidak dalam bahasa jawa”. Akhirnya kami mencari wisma lain di sekitar situ. Dan pilihan kami pada wisma Monica dengan tariff 250 ribu per malam. Nasib.. Nasib.. Over budget lagi. Ya sudahlah yang penting tidur.
Kete Kesu

puluhan tanduk kerbau di Tongkonan
Matahari belum begitu menampakkan senyumnya, kami sudah memulai pertualangan kami yang sangat singkat di Tana Toraja karena jam 10 pagi kami harus balik ke Makassar. Tempat pertama yang kami tuju adalah Desa Kete Kesu. Desa ini hanya 5 kilometer dari Rantepao. Tiket masuk ke objek wisata ini tergolong murah yaitu hanya Rp. 5.000. Dari kejauhan terlihat deretan Tongkonan, rumah khas masyarakat Tana Toraja. Luar biasa. Di setiap tongkonan terdapat puluhan tanduk kerbau yang menandakan status sosial pemiliknya yang sangat tinggi. Di sinilah dipusatkannya upacara pernikahan dan pemakaman adat Tana Toraja. Setiap prosesi adat bisa menghabiskan dana sampai milyaran rupiah.

Di balik deretan Tongkonan tersebut, terdapat pemakaman yang berada di atas tebing. Ketika kami akan naik ke deretan tangga menuju tebing, pak Raul memperingatkan kami untuk tidak bertanya yang macam-macam. Alhasil sampai di atas tebing, kami cuma diam membisu walaupun sejuta pertanyaan sudah berkecamuk di benakku. Daripada aku kenapa – kenapa, lebih baik aku diam, pikirku. Tiba – tiba pak Raul memecah keheningan. “ada pertanyaan mbak?”, katanya santai dengan aksen ambonnya yang kental
 “Memang boleh tanya pak? Tadi katanya tidak boleh tanya. “Gimana sih pak?”, tanya kami lugu.
 “Lah, silahkan saja.” GUBRAK.
peti mati  bentuk kepala kerbau plus  tulang belulang dan tengkorak
Barang kesayangan

 Akhirnya sejuta pertanyaanku yang tertahan bisa kutumpahruahkan. Hal yang aku anggap perlu aku ceritakan kembali adalah bahwa bentuk peti mati tergantung jenis kelamin jenazah, bentuk kepala babi untuk perempuan dan kepala kerbau untuk pria. Selanjutnya adalah barang-barang yang berserakan di dekat peti mati yang terkesan tidak berguna seperti majalah bekas, kursi plastik yang sudah usang, botol minuman yang berisi air. Awalnya semua itu aku pikir adalah ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Namun dari penjelasan Pak Raul, semua ini adalah barang yang disukai orang yang telah wafat tersebut. Buku yang beliau suka baca, kursi kesayangan, air yang bersumber dari rumah atau lingkungannya.
Tau-Tau
Peti mati diletakkan bertumpuk
Setelah puas di Kete Kesu, kami beranjak ke Londa. Jaraknya tidak begitu jauh. Hanya 10 menit. Sebuah kuburan yang terbuat dari gua alami yang memiliki kedalaman 1000 meter. Di sini aku memaksimalkan fungsi seorang pemandu wisata mulai dari bertanya ini itu dan meminta rekomendasi angle foto yang bagus. By the way, di Londa ini kita bisa menemukan tau - tau, patung kayu yang dibuat sangat menyerupai orang yang meninggal bahkan baju yang dipakaikan di patung itu adalah milik mereka. Patung-patung itu diletakkan di suatu tempat yang ketika gelap tiba bisa ditutup dan digembok. Aku pikir patung itu bisa hidup di malam hari, makanya harus digembok. Tapi nyatanya itu karena banyak pencurian patung. 

Tengkorak Romeo Juliet Tana Toraja
 Di dalam gua, terdapat banyak tengkorak, peti mati, botol aqua, dan rokok. Yang menarik perhatianku adalah sepasang tengkorak yang kata pemandu kami adalah milik Romeo Juliet nya Tana Toraja. Kisah cinta yang terlarang yang akhirnya berujung maut. Tragis.
  



Sebenarnya kami ingin menjelajahi Tana Toraja lebih jauh terutama Passiliran, kuburan bayi yang di pohon tarra di daerah Kambira tapi waktu sangat terbatas dan lokasinya yang cukup jauh, kami harus beranjak pulang.

Catatan perjalanan pulang:
Di daerah entrekang terdapat gunung Nona, kata sopir kami gunung itu disebut Nona karena bentuknya mirip genital perempuan sedangkan di balik gunung itu bentuknya mirip genital pria. Konon katanya dulunya itu adalah sepasang kakak adik yang jatuh cinta kemudian dikutuk.
Sesampainya kami di bandara, pak Raul menyodori invoice rental mobil. Tertulis 1.500.000. Dua kali lipat dari perjanjian semula. Kami menolak karena perjanjian awal adalah 750 ribu. Ternyata itu hanya untuk satu hari. Akhirnya setelah kami mengeluarkan ajian kisah sedih dan mata berkaca-kaca, disepakatilah harga satu juta. Ah lumayan lah. Akhirnya perjalanan Tana Toraja diakhiri dengan senyuman.

Baca juga info tentang penginapan, transportasi, tempat wisata, dan upacara di sini

20 komentar:

  1. Alhamdulillah.,, akhirnya kisah petualngan singkat kita selesai juga kamu tulis mba.,
    tapi kurang banyak ftonya,.xixixii.,.
    tapi gpp., tetep keren n berkesan ngelewatin perjalan d hutan yg gelap gulita.,
    kapan2 qt k Bantimurung deh.,AMIN.,

    BalasHapus
  2. tidak mengenal suku, kisa percintaan selalu ada saya yg berakhir tragis seperti romeo juliet versi londa

    BalasHapus
  3. Hi, kalau boleh bisa minta CP sewa mobilnya? karena kemungkinan saya dan teman2 jg baru sampai makassar jam 12 malam dan ingin ke toraja secepatnya ^^ oh ya 750rb itu include sopir+bensin atau gmn? thanks

    BalasHapus
  4. dear livya,
    aq gak ada no kontak sewa mobilnya tapi di blog post ku yang lain ada beberapa rental mobil. bisa dilihat disini ==>
    http://arumisdreaming.blogspot.com/2012/11/detail-info-tana-toraja-transportasi.html

    750 kmrn itu per hari belum pake bensin. Btw kl merasa kemahalan dinego aja. kayaknya masih bisa turun kok.. :P

    BalasHapus
  5. tp mending lbh murah klo dengan bis, cm saran siicchh....;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  6. yup.. emg jauh lebih murah dengan bis dan disananya muter2 sewa motor.. tapi sayangnya waktu itu saya ketinggalan bus terakhir.. :(

    BalasHapus
  7. Hi.. Nanya dong, aku rencana mau ke toraja bulan depan... Nmr telp guide ada gak? Kemana aja bgusnya yah? :) makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya aku gak simpen nomernya.. tapi tujuan wisatanya bisa dilihat di http://arumisdreaming.blogspot.com/2012/11/detail-info-tana-toraja-transportasi.html :)

      Hapus
  8. Fergie.. Kl boleh tau tepatnya tanggal berapa mau explorenya? Kali aja bisa gabung, aku sendirian sih ;D

    BalasHapus
  9. ingin mendapatkan informasi lengkap tentang wisata Tana Toraja? kunjungi saja halaman ini

    http://jelajahtoraja.blogspot.com/

    BalasHapus
  10. Untuk perjalanan ke Toraha ada persinggahan spot wisata yang sangat sayang di lewatkan KAWASAN KARST MAROS ......
    info di
    http://rentalmobilmakassar.blogspot.com/2012/08/kawasan-karst-maros.html

    BalasHapus
  11. info wisata yang menarik..makasih infonya

    BalasHapus
  12. pengen banget ke Tana Toraja, pengen liat prosesi pemakan yang unik itu

    BalasHapus
  13. walaupun over budget tetapi puas ya mantep banget penegn kesnaa jadinya bagus" dan kebudayaanya masih terjaga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau pas upacara pemakaman, pasti lebih berkesan.. makasih dah berkunjung :)

      Hapus